REDXOT — Ensiklopedia Hidup Sulawesi Selatan
JELAJAH KAMPUNG SULSEL
Mengenal Sulawesi Selatan, satu kampung satu cerita.
Menjelajahi kehidupan, manusia, budaya, sejarah, kuliner, tradisi, dan tempat-tempat yang membentuk Sulawesi Selatan.
Peta Interaktif
Perbesar, geser, dan klik kabupaten/kota untuk masuk ke halaman wilayahnya. Dua mode: Administratif dan Cerita.
Dari Peta ke Cerita
Setiap wilayah punya halaman sendiri — cerita, tokoh, kuliner, tradisi, dan dokumentasinya.
Tokoh Kampung
Cendekiawan di Lingkungan Istana Karaeng Pattingalloang adalah sosok yang namanya melekat erat dengan kejayaan intelektual Kerajaan Gowa. Ia hidup dan berkarya di sekitar Makassar pada masa ketika kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan percaturan politik di Sulawesi Selatan. Sebagai pembesar istana, ia tidak hanya sibuk dalam urusan pemerintahan, tetapi juga dikenal sebagai seorang cerdikiawan yang haus akan pengetahuan. Kecintaannya pada ilmu membuatnya dekat dengan para pelaut, pedagang, dan misionaris asing yang singgah di pelabuhan Makassar. Dari pergaulan itulah ia menyerap berbagai pengetahuan baru, mulai dari astronomi, matematika, hingga bahasa asing. Konon, ia mampu berbicara dalam beberapa bahasa Eropa, sebuah kemampuan yang langka pada zamannya. Peran sebagai Penasihat dan Negarawan Dalam struktur Kerajaan Gowa, Karaeng Pattingalloang bukan sekadar bangsawan biasa. Ia dipercaya memegang peran penting sebagai penasihat utama, terutama dalam hubungan dagang dan diplomasi dengan bangsa asing. Kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan membuat kerajaan mampu menjaga kedaulatan di tengah tekanan kolonial yang mulai menguat. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong modernisasi administrasi kerajaan. Melalui nasihat-nasihatnya, ia membantu raja dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Ketika banyak wilayah lain dilanda konflik, Gowa di bawah pengaruhnya mampu bertahan sebagai pelabuhan yang terbuka dan tertib. Nilai Keteladanan yang Abadi Dari perjalanan hidup Karaeng Pattingalloang, kita belajar bahwa kekuasaan tidak harus diisi dengan kemewahan, melainkan dengan ilmu dan kebijaksanaan. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin bisa rendah hati meski dikelilingi oleh berbagai kehormatan. Semangat belajarnya yang tak pernah padam menjadi warisan yang relevan hingga kini. Di tengah arus globalisasi, sosoknya mengingatkan kita untuk tetap terbuka terhadap pengetahuan baru tanpa kehilangan akar budaya sendiri. Karaeng Pattingalloang adalah bukti bahwa kecerdasan dan integritas mampu menjaga martabat sebuah peradaban. <p><strong>Wilayah:</strong> Kota Makassar</p> Wilayah: Kota Makassar
Nama Sakir tercantum dalam dokumen KPU Kota Palopo pada 2021 untuk Kelurahan Tomarundung — sebagai peserta basis tokoh masyarakat, adat, dan agama dalam program kepemiluan. Keterlibatannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan politik sampai ke lapisan masyarakat paling bawah. Peran dalam Program Desa Peduli Pemilu Program Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan bertujuan melibatkan masyarakat akar rumput dalam pendidikan politik. Para tokoh masyarakat, adat, dan agama dilibatkan sebagai basis sosial yang bisa menjadi jembatan informasi bagi warga di lingkungannya. Mereka membantu menyebarkan informasi yang benar dan menangkal kabar keliru menjelang pemilu — peran yang makin penting di era informasi yang bergerak cepat. Kelurahan Tomarundung di Kota Palopo Kelurahan Tomarundung berada di wilayah Kota Palopo, salah satu kota di Sulawesi Selatan yang berada di pesisir Teluk Bone. Sebagai kota pelabuhan, denyut pelabuhan Palopo di Teluk Bone menjadi bagian dari keseharian warganya, sebagaimana denyut kehidupan di pelabuhan Palopo yang tak pernah benar-benar sepi. Keikutsertaan warga dalam program kepemiluan sejak tahap awal menjadi modal penting terciptanya pemilu yang aman dan damai. Menghargai Kontribusi Warga Setiap nama dalam dokumen resmi semacam ini mewakili orang-orang yang bersedia mengambil peran di tengah masyarakat. Meski informasinya masih terbatas, mencatat kiprah mereka adalah bentuk penghargaan atas kesediaan menjaga proses demokrasi. Dengan mengenal nama-nama yang terlibat, masyarakat juga ikut mengawasi dan mendukung jalannya program kepemiluan di daerahnya. Peran warga di tingkat kelurahan seringkali luput dari sorotan, padahal justru di sinilah demokrasi dijalankan sehari-hari. Penutup Sakir mewakili banyak warga Palopo yang mengambil peran kecil namun penting dalam demokrasi. Catatan semacam ini layak dirawat—karena dari keterlibatan warga di akar rumputlah pemilu yang sehat tumbuh di Sulawesi Selatan.
H. Pangerang Rahim adalah salah satu tokoh masyarakat dan tokoh agama yang aktif di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Namanya kerap muncul dalam kegiatan sosial keagamaan, khususnya dalam Majelis Syuhada Parepare — tempat ia dipercaya memegang peran sebagai Ketua Majelis Syuro. Kiprah di Majelis Syuhada Majelis Syuhada Parepare menjadi wadah kegiatan dan silaturahmi para tokoh. Dalam pemberitaan tahun 2026, H. Pangerang Rahim disebut sebagai Ketua Majelis Syuro Majelis Syuhada— posisi yang menegaskan kepercayaan masyarakat kepadanya sebagai panutan. Sebagai tokoh agama, perannya umumnya mencakup pemberian tausiah, pendampingan kegiatan keagamaan, serta menjembatani tokoh masyarakat dengan warga. Parepare, Kota Bandar dengan Banyak Tokoh Parepare bukan hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan bandar dagang, tetapi juga tempat lahirnya banyak tokoh nasional. Di tingkat komunitas, tokoh masyarakat dan agama seperti H. Pangerang Rahim menjadi perekat yang menjaga kerukunan. Mereka hadir dalam acara adat, keagamaan, hingga musyawarah warga demi kebersamaan. Suasana kota bandar dan warung kopi menjadi latar keseharian yang akrab, dan Cappa Ujung sebagai ruang senja warga Parepare kerap jadi tempat warga berkumpul. Menjaga Peran Tokoh di Tengah Zaman Di tengah perubahan zaman, sosok tokoh agama tetap dibutuhkan. Mereka menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, dan penyejuk saat terjadi perbedaan. Mengangkat profil tokoh seperti H. Pangerang Rahim adalah cara masyarakat Parepare menghargai mereka yang mengabdi untuk kepentingan bersama. Penutup Kehadiran tokoh seperti H. Pangerang Rahim mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari bangunan, tetapi juga dari eratnya hubungan antarwarganya. Parepare yang guyub tumbuh bersama tokoh-tokoh yang setia menjaga nilai dan kebersamaan.
Abdul Rodjak, Seniman Sandiwara dari Makassar Di Kota Makassar, nama Abdul Rodjak dikenal sebagai seniman dan tokoh budaya yang mengabdikan diri pada kesenian. Melalui kelompok sandiwara Petta Puang, ia membawa panggung pertunjukan menjadi ruang untuk menghidupkan kearifan lokal Bugis-Makassar di tengah kehidupan kota yang terus berubah. Sosok di Balik Kelompok Petta Puang Abdul Rodjak lahir di Makassar dan tumbuh di lingkungan yang dekat dengan tradisi. Nama Petta Puang melekat pada kelompok sandiwara yang ia kembangkan — wadah bagi para seniman untuk bercerita, menghibur, sekaligus menyampaikan pesan. Pertunjukannya mengangkat kearifan lokal Bugis-Makassar: nilai kesopanan, kejujuran, dan kegotongroyongan yang diwariskan turun-temurun. Sandiwara Rakyat dalam Kehidupan Masyarakat Sandiwara rakyat bukan hal asing bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Sebelum hiburan modern membanjiri layar, pertunjukan panggung menjadi sarana berkumpul dan belajar bersama. Lewat cerita dan lawakan, penonton diajak merenungkan persoalan sehari-hari tanpa terkesan menggurui. Kehadiran kelompok seperti Petta Puang menunjukkan bahwa kesenian bisa menjadi cermin sekaligus penjaga nilai. Di tengah gempuran budaya populer, kelompok semacam inilah yang memastikan pesan leluhur tetap terdengar oleh generasi baru. Teladan bagi Generasi Muda Kiprah Abdul Rodjak menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya hidup di museum. Ia bisa hidup di panggung, di tawa penonton, dan di semangat para seniman yang terus berkarya. Sosok seperti dirinya menempatkan seniman pada posisi penting: menjaga identitas sekaligus membuka ruang kreativitas. Kota Makassar sendiri menyimpan banyak jejak budaya dan sejarah, dari Benteng Rotterdam dan Kampung Tua hingga kesenian seperti Tari Pakkarena dari Tanah Gowa yang masih lestari hingga kini. Penutup Bagi warga Makassar, menghargai tokoh budaya berarti ikut memastikan kearifan lokal Bugis-Makassar tetap relevan. Menghargai mereka berarti menghargai akar budaya yang menjadi bagian dari jati diri kota.
Jelajah Berdasarkan
Fitur Unggulan
Dokumentasi perubahan kampung: jalan, pasar, rumah, pantai, sawah, dan ruang publik.
Galeri
Jelajah dalam Gambar Bergerak
Seluruh 24 kabupaten/kota dalam satu halaman: foto, jumlah cerita, jumlah kampung terdokumentasi, dan progress dokumentasi.
Buka Arsip WilayahKontribusi
Setiap cerita ditinjau redaksi dulu sebelum terbit — Pending, Review, Approved, lalu Published.