Satu Kampung. Satu Cerita. Satu Sulawesi Selatan.
Menjelajah Sulawesi Selatan Cerita Terbaru Dulu & Sekarang Kirim Cerita

Benteng Tua dan Kehidupan di Sekitarnya

September 29, 2026 Wilayah: Kota Makassar

Di Tengah Kota yang Terus Bergerak

Di jantung Kota Makassar, sebuah benteng tua berdiri kokoh. Benteng Rotterdam, demikian namanya, menyaksikan lalu lalang kendaraan dan hiruk-pikuk warga yang tak pernah berhenti. Di sekelilingnya, kampung-kampung tua tumbuh menjalar, seakan menjadi akar yang mengikat bangunan bersejarah itu pada tanah yang sama.

Suasana di kawasan ini unik. Antara dinding benteng yang tebal dan rumah-rumah padat penduduk, ada denyut kehidupan yang berjalan pelan namun pasti. Anak-anak bermain di gang sempit, sementara para pedagang menyiapkan dagangannya. Bau laut dari arah pelabuhan sesekali terbawa angin, bercampur dengan aroma kopi dan rempah dari warung-warung kecil.

Kehidupan Sehari-hari di Bayang-Bayang Benteng

Kampung tua di sekitar Benteng Rotterdam bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang kota ini. Rumah-rumah berdinding papan dan semen berdiri berdampingan, sebagian masih mempertahankan arsitektur lama dengan jendela lebar dan ventilasi yang baik. Warga di sini hidup sederhana, sebagian besar bekerja sebagai pedagang, nelayan kecil, atau buruh di sekitar pelabuhan.

Setiap pagi, kawasan ini bangun lebih awal. Suara pedagang sayur yang melewati gang, deru mesin perahu di kejauhan, dan percakapan warga yang saling menyapa menjadi irama khas yang mengiringi aktivitas harian. Meski kota terus berubah, kehidupan di kampung ini seolah berjalan pada ritmenya sendiri.

Alam dan Pekerjaan yang Mengikat

Kedekatan kawasan ini dengan laut bukan sekadar pemandangan. Ia adalah sumber kehidupan. Bagi sebagian warga, laut adalah tempat mencari nafkah. Perahu-perahu kecil masih terlihat bersandar di dekat muara sungai yang tak jauh dari benteng, mengingatkan bahwa Makassar sejak dulu adalah kota pelabuhan.

Namun hubungan manusia dengan alam di sini tidak melulu tentang laut. Sungai yang membelah kota, yang dulu menjadi jalur transportasi penting, kini menjadi bagian dari lanskap yang perlahan berubah. Warga tua masih bercerita tentang masa ketika airnya jernih dan anak-anak berenang di dalamnya. Kini, sungai itu lebih banyak menjadi latar belakang, menyimpan kenangan yang perlahan memudar.

Nilai yang Tersimpan

Di balik hiruk-pikuk dan kesederhanaan, kawasan ini menyimpan nilai yang dalam. Toleransi dan gotong royong masih terasa kuat. Warga saling mengenal, saling menjaga, dan saling membantu. Tradisi lama seperti perayaan hari besar dan acara syukuran masih dilakukan bersama-sama, mempererat ikatan yang sudah terbangun sejak lama.

Benteng Rotterdam berdiri sebagai pengingat bahwa kota ini pernah menjadi pusat perdagangan dan pertemuan berbagai bangsa. Kampung tua di sekitarnya adalah penerus cerita itu, dengan cara hidup yang mungkin tak banyak berubah meski zaman berganti. Mereka adalah penjaga memori, yang setiap harinya hidup berdampingan dengan sejarah.

Kawasan ini bukan sekadar tempat wisata sejarah. Ia adalah rumah. Tempat di mana masa lalu dan masa kini berjalan beriringan, di mana manusia dan alamnya saling bertautan dalam keseharian yang tenang. Dan selama kampung itu masih ada, cerita tentang Makassar akan terus hidup.

Foto: Unknown author Unknown author – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Binnenkant van het Fort Rotterdam te Makassar op Celebes. TMnr 60013053.jpg