Benteng Rotterdam dan Kampung Tua
Di Bawah Bayang-Bayang Benteng
Benteng Rotterdam berdiri tegak di tengah Kota Makassar, sebuah saksi bisu yang menyaksikan pergantian zaman. Dinding batanya yang tebal dan kokoh masih menyimpan gurat-gurat sejarah, dari masa kerajaan Gowa-Tallo hingga era kolonial. Di sekelilingnya, kampung-kampung tua tumbuh dan berkembang, seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh benteng itu sendiri.
Jalan-jalan kecil di sekitar benteng masih mempertahankan tata ruang lama. Rumah-rumah panggung dengan dinding papan berdempetan, beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari satu abad. Di pagi hari, suara ayam berkokok dan percakapan warga yang saling sapa terdengar jelas, berbaur dengan suara kendaraan yang melintas dari jalan raya di kejauhan.
Kehidupan Sehari-hari
Di kampung tua ini, kehidupan berjalan dengan ritme yang tenang. Warung-warung kecil buka sejak subuh, menyajikan kopi dan aneka kue tradisional. Para ibu sibuk mencuci di sumur bersama, sementara anak-anak bermain di lorong-lorong sempit yang teduh. Aktivitas warga sehari-hari terasa akrab, seperti potongan-potongan kecil dari sebuah mozaik kehidupan yang panjang.
Sebagian warga menggantungkan hidup pada kegiatan yang berhubungan dengan benteng. Ada yang membuka usaha kecil di sekitar area wisata, menjadi pemandu, atau sekadar menjaga kios cenderamata. Sebagian lainnya bekerja sebagai nelayan di pesisir yang tidak jauh dari kawasan ini. Meski modernitas mulai merambah, cara hidup sederhana masih terasa kental.
Nilai yang Tersimpan
Kampung tua di sekitar Benteng Rotterdam menyimpan nilai-nilai yang jarang ditemukan di tempat lain. Rasa kebersamaan dan gotong royong masih terjaga. Warga saling mengenal satu sama lain, dan setiap ada hajatan atau musibah, mereka datang membantu tanpa diminta. Tradisi seperti ini diwariskan turun-temurun, menjadi perekat sosial di tengah arus perubahan.
Bagi warga, benteng bukan sekadar bangunan tua yang menjadi objek wisata. Ia adalah bagian dari identitas kampung mereka. Anak-anak tumbuh dengan cerita tentang masa lalu yang disampaikan oleh orang tua dan kakek-nenek mereka. Meski tidak semua detail sejarah tercatat rapi, ingatan kolektif itu tetap hidup dalam keseharian.
Penutup
Matahari sore menyinari dinding Benteng Rotterdam, menciptakan bayangan panjang yang menyentuh atap-atap rumah di sekitarnya. Kampung tua ini tetap hidup, berdenyut pelan namun pasti, seolah menolak untuk dilupakan oleh waktu. Di sini, sejarah tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga di setiap sudut lorong, di setiap wajah warga yang ramah, dan di setiap nafas kota yang terus berjalan.
Foto: Mirza Baihaqie – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 4.0). Sumber: File:Fort Rotterdam mirza Baihaqie.jpg


