Benteng Tua dan Kampung di Sekitarnya
Suasana di Kaki Benteng
Benteng Rotterdam berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar. Dinding batanya yang merah tua seakan menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Dari kejauhan, benteng ini tampak seperti raksasa yang menjaga kota, dikelilingi oleh jalan-jalan yang sibuk dan gedung-gedung modern.
Namun, di balik kemegahannya, ada denyut kehidupan yang berbeda. Tepat di sekitar benteng, tumbuh kampung-kampung tua dengan deretan rumah panggung yang saling berdempetan. Atap-atap seng yang sudah berkarat dan dinding papan yang lapuk berbaur dengan tembok benteng yang masih kokoh.
Kehidupan Sehari-hari
Pagi hari di kampung tua ini dimulai dengan suara ayam berkokok dan orang-orang yang sibuk menyiapkan dagangan. Para ibu menimba air di sumur bersama, sementara anak-anak berlarian di gang-gang sempit yang hanya muat untuk dua orang berjalan berdampingan.
Warung-warung kecil di beranda rumah menjual kopi, rokok, dan gorengan. Para bapak duduk di bangku kayu sambil menikmati kopi hitam pekat, sesekali melirik ke arah benteng yang menjulang di dekat mereka. Ada keakraban yang terasa hangat di antara warga, seperti keluarga besar yang sudah tinggal bersama sejak lama.
Alam dan Pekerjaan
Kampung tua ini tidak jauh dari laut. Sebagian warga bekerja sebagai nelayan, melaut di pagi buta dan kembali saat matahari meninggi. Perahu-perahu kayu bersandar di dermaga kecil yang tidak jauh dari benteng, bergoyang pelan mengikuti irama ombak.
Sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang, buruh, atau pengrajin. Ada juga yang membuka usaha kecil-kecilan di rumah, seperti menjahit atau membuat kue tradisional. Pekerjaan mereka sederhana, tetapi dilakukan dengan tekun dan penuh rasa syukur.
Nilai yang Tersimpan
Di balik kesederhanaannya, kampung tua ini menyimpan nilai-nilai yang kuat. Gotong royong masih terasa kental. Ketika ada warga yang sakit atau meninggal, semua orang datang membantu tanpa diminta.
Rasa hormat kepada orang tua dan sesepuh kampung juga masih dijaga. Mereka dianggap sebagai sumber petuah dan penjaga sejarah. Cerita tentang masa lalu benteng dan kampung ini sering dituturkan dari generasi ke generasi, meski tak semua orang tahu persisnya.
"Kami hidup di sini turun-temurun. Benteng itu sudah seperti bagian dari keluarga kami."
Begitu kira-kira yang sering terdengar dari mulut para tetua.
Penutup
Benteng Rotterdam dan kampung tua di sekitarnya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Yang satu berdiri megah dengan sejarahnya, yang lain hidup sederhana dengan kisahnya sendiri. Keduanya saling mengisi, menciptakan pemandangan yang unik di tengah kota.
Ketika matahari terbenam, cahaya jingga menyinari dinding benteng dan atap-atap rumah kampung. Suasana menjadi tenang, seakan waktu berhenti sejenak. Di sanalah terlihat jelas bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga hidup dalam keseharian warga yang tinggal di sekitarnya.
Foto: Unknown author Unknown author – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Rijtuigen bij Fort Rotterdam Makassar TMnr 60039501.jpg


