Mappacci, Penyucian Diri Menjelang Pernikahan Bugis
Foto: Desty Rahmadany – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 4.0). Sumber: File:Traditional wedding of the Bugis tribe.jpg
Mappacci: Penyucian Diri Menjelang Pernikahan Bugis
Malam itu, rumah panggung di Kabupaten Soppeng tak hening. Lantunan doa bersahutan dari dalam, sementara para tetangga dan kerabat duduk bersila di tikar pandan. Di tengah ruangan, calon pengantin perempuan duduk tenang, kedua telapak tangannya terbuka di atas bantal.
Daun yang Disusun sebagai Doa
Seorang perempuan yang biasa memimpin ritual menghampiri. Ia mengambil daun pacci yang telah direndam air, lalu meletakkannya di telapak tangan calon pengantin. Daun-daun itu disusun rapi, menutupi punggung tangan hingga ke pergelangan. Proses dilakukan perlahan, penuh kehati-hatian, seakan setiap sentuhan adalah doa yang disampaikan.
Makna di Balik Daun yang Diremas
Mappacci berasal dari kata pacci, sebutan lokal untuk daun pacar atau henna. Daun ini dipilih bukan tanpa alasan. Warna merah yang keluar setelah diremas melambangkan kesucian hati dan kesiapan menjalani hidup baru. Masyarakat Bugis Soppeng meyakini, ritual ini membersihkan diri calon pengantin dari segala hal yang kurang baik sebelum mengucap ikrar suci.
Prosesi ini juga menjadi ruang bagi keluarga untuk menyampaikan restu. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk kelancaran acara, tetapi juga untuk masa depan kedua mempelai. Nilai yang dijaga adalah kebersamaan dan gotong royong. Semua hadir bukan sekadar menonton, melainkan ikut merawat dan mendoakan.
Menjaga Tradisi di Tengah Zaman
Di tengah arus modernisasi, Mappacci tetap dijalankan oleh masyarakat Soppeng. Meski tata cara pelaksanaannya bisa disesuaikan dengan kondisi, inti ritualnya tidak berubah. Daun pacci tetap menjadi bagian wajib, dan doa restu tetap menjadi nyawa dari seluruh prosesi.
Bagi masyarakat setempat, Mappacci bukan sekadar rangkaian acara adat. Ia adalah pengingat bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Tradisi ini menjadi jembatan antara generasi, tempat nilai-nilai leluhur tentang kesucian dan tanggung jawab terus dijaga dan diwariskan. Lewat Mappacci, doa leluhur terus menyertai setiap langkah anak Bugis menuju kehidupan baru. Kisah serupa juga dapat ditemukan pada tulisan tentang Mappacci, ritual menyucikan di Soppeng.
