Mappacci, Doa Leluhur di Balik Malam Pengantin
Foto: Buregsandeq – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:Pernikahan Adat Bugis di Tanah Mandar.JPG
Mappacci, Doa Leluhur di Balik Malam Pengantin
Di Kabupaten Soppeng, menjelang hari pernikahan, rumah mempelai perempuan berubah menjadi ruang hening. Keluarga, tetangga, dan tokoh adat berkumpul. Mereka duduk bersila di sekitar pengantin yang mengenakan kain putih. Malam itu menjadi malam penuh doa sebelum kehidupan baru dimulai.
Malam Penuh Doa di Soppeng
Ritual ini disebut Mappacci. Namanya diambil dari daun pacci atau pacar yang ditumbuk halus. Daun itu lalu dioleskan ke telapak tangan dan kuku calon pengantin. Tujuannya membersihkan diri dari segala cela, baik lahir maupun batin.
Suasana dibuat khusyuk. Ayat-ayat doa dipanjatkan bergantian oleh para hadirin, dimulai dari keluarga dekat hingga tokoh adat yang hadir. Tak ada nyanyian ramai; yang ada hanyalah keheningan yang diisi doa dan harapan.
Simbol Kesucian
Daun pacci yang berwarna merah dipakai sebagai perlambang keberanian dan ketulusan. Kain putih yang dikenakan pengantin menggambarkan kesucian hati. Semua hadirin memanjatkan doa agar pengantin memasuki bahtera rumah tangga dengan jiwa bersih.
Mappacci bukan sekadar tradisi. Ia adalah warisan leluhur Bugis yang terus dijaga. Nilai utamanya adalah menjaga kehormatan keluarga. Melalui ritual ini, keluarga memberi restu dan pesan agar anaknya berlaku jujur serta berbakti kepada pasangan dan mertua.
Nilai yang Dijaga Masyarakat
Dalam pelaksanaannya, Mappacci mengajarkan kebersamaan. Para tetangga datang membawa niat baik, membantu menyiapkan daun, air, dan alat-alat ritual. Tidak ada pamrih, hanya rasa kekeluargaan yang dirawat turun-temurun.
Masyarakat Soppeng percaya, Mappacci menjadi benteng moral bagi pengantin. Mereka yang menjalani ritual ini dianggap siap lahir dan batin. Kesalahan masa lalu diampuni, dan langkah baru dimulai dengan doa bersama.
Hingga kini, Mappacci tetap dilaksanakan di tengah modernitas. Bagi warga Soppeng, ritual ini bukan formalitas belaka. Ia adalah napas adat yang mengingatkan bahwa pernikahan adalah perjalanan suci, bukan sekadar pesta.
Dengan tetap melestarikan Mappacci, masyarakat Soppeng menjaga identitas budaya mereka. Tradisi ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, tempat doa dan harapan bertemu dalam satu helaian daun pacci. [CATATAN EDITORIAL: kutipan narasumber publikasi sebelumnya telah dihapus karena tanpa identitas; bila ingin menyertakan suara narasumber, wajib mencantumkan nama dan konteks yang jelas atau sumber dokumen.]
###
