Benteng Rotterdam dan Kampung Tua Makassar
Benteng di Tengah Kota
Benteng Rotterdam berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar. Dinding batanya yang tebal seakan menjadi saksi bisu perjalanan panjang daerah ini. Dari luar, suara kendaraan bermotor terdengar samar, namun begitu melangkah masuk ke pelatarannya, suasana berubah tenang. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma garam dan sejarah. Dari pelataran Benteng Rotterdam, terlihat jelas bagaimana bangunan tua ini hidup berdampingan dengan kota modern.
Di sekeliling benteng, tumbuh kampung-kampung tua. Rumah-rumah panggung berdempetan, beberapa di antaranya masih mempertahankan arsitektur asli. Lorong-lorong kecil menghubungkan antar rumah, menciptakan labirin kehidupan yang sudah berlangsung turun-temurun.
Kehidupan Sehari-hari
Pagi hari, kampung tua ini mulai hidup. Para ibu terlihat sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga. Anak-anak berlarian menuju sekolah, melewati gang-gang sempit yang basah oleh embun. Sesekali terdengar sapaan hangat antar tetangga, mengalir alami seperti udara pagi.
Di sudut kampung, beberapa warga duduk bersantai sambil menikmati kopi. Mereka berbincang tentang banyak hal, dari harga kebutuhan pokok hingga cerita lama yang diwariskan orang tua mereka. Kehidupan berjalan sederhana, tanpa banyak tuntutan, namun penuh keakraban yang jarang ditemui di kota besar.
Nilai yang Tersimpan
Kampung tua di sekitar Benteng Rotterdam menyimpan banyak nilai yang tak tertulis. Gotong royong masih terasa kental. Ketika ada warga yang sakit atau menggelar hajatan, tetangga datang membantu tanpa diminta. Tradisi saling menghormati juga masih dijaga, terutama kepada orang yang lebih tua.
"Kami di sini hanya meneruskan apa yang sudah diajarkan nenek moyang. Hidup rukun dan saling bantu itu sudah jadi kebiasaan," ujar seorang warga yang sudah puluhan tahun menetap di kampung tersebut.
Menelusuri Gang-gang Kampung Tua
Berjalan menyusuri gang-gang kampung ini seperti menelusuri memori visual Makassar: dinding tua berlumut, jendela kayu yang terbuka lebar,dan anak-anak yang bermain di sela jemuran. Setiap tikungan menyimpan pemandangan sederhana yang jarang terekam di media sosial, tetapi justru di situlah rasa kota tinggal. Bagi yang ingin mendalami sisi sejarahnya, sejarah benteng yang berlapis bisa dibaca sebagai pengantar sebelum menyusuri gang-gang ini.
Perubahan yang Perlahan
Namun, zaman terus bergerak. Beberapa rumah tua mulai direnovasi, menyesuaikan kebutuhan modern. Anak-anak muda banyak yang merantau mencari pekerjaan di luar daerah. Kampung ini pelan-pelan berubah, tapi semangat kebersamaannya masih bertahan. Benteng Rotterdam yang gagah tetap menjadi penanda, bahwa di tengah perubahan, ada sejarah yang tak pernah benar-benar pergi.
Foto: Jhr. J.C. (Josias Cornelis) Rappard (Tekenaar). – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Het fort Rotterdam in Makassar TMnr 3728-858.jpg


