Satu Kampung. Satu Cerita. Satu Sulawesi Selatan.
Menjelajah Sulawesi Selatan Cerita Terbaru Dulu & Sekarang Kirim Cerita

Benteng Rotterdam dan Kampung Tuanya

September 29, 2026 Wilayah: Kota Makassar

Pagi di Bayang-Bayang Benteng

Matahari pagi menyentuh dinding bata merah Benteng Rotterdam yang tegak di tengah Kota Makassar. Di sekelilingnya, gang-gang sempit berkelok membentuk kampung tua yang usianya jauh lebih panjang dari ingatan banyak orang. Suara ayam berkokok bercampur deru kendaraan bermotor yang mulai padat di jalan raya.

Di sini, kehidupan berjalan seperti detak jam yang lambat namun pasti. Sebagian warga membuka jendela kayu rumah mereka, menyapu teras, lalu bergegas menyiapkan sarapan. Aktivitas itu sudah menjadi pemandangan rutin selama puluhan tahun, tanpa banyak berubah.

Kehidupan Sehari-hari

Kampung tua di sekitar Benteng Rotterdam bukanlah kawasan yang sepi. Rumah-rumah berdempetan dengan tembok yang saling bersentuhan, halaman sempit menjadi tempat menjemur pakaian dan bermain anak-anak. Pagi hari, ibu-ibu sibuk di dapur sambil sesekali menegur tetangga yang lewat.

Anak-anak sekolah berjalan kaki menuju gerbang keluar kampung, menyusuri lorong yang sama seperti orang tua mereka dulu. Para bapak berangkat bekerja dengan sepeda motor tua atau naik angkutan kota. Sementara itu, sebagian warga membuka warung kecil di teras rumah, menjual kopi, rokok, dan kebutuhan harian.

Menjelang siang, suasana menjadi lebih tenang. Beberapa pria lanjut usia duduk di pos ronda atau di bawah pohon rindang, berbincang santai sambil menikmati angin laut yang kadang terasa hingga ke tengah gang.

Nilai yang Tersimpan

Kampung tua ini menyimpan nilai kebersamaan yang jarang ditemukan di kawasan modern. Warga saling mengenal satu sama lain, bahkan tahu riwayat keluarga di sepanjang gang. Ketika ada yang sakit atau tertimpa musibah, tetangga datang tanpa diminta.

Anak-anak dibiasakan menghormati orang yang lebih tua, dan setiap tamu yang masuk kampung akan disambut dengan sapaan hangat. Gotong royong membersihkan drainase atau memperbaiki jalan kampung masih menjadi tradisi yang dijalankan secara sukarela.

Di balik tembok Benteng Rotterdam yang kokoh, kampung ini mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam bangunan. Ia juga hidup dalam cara orang-orang saling menjaga dan bertahan di tengah kota yang terus bergerak.

Penutup

Sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, Benteng Rotterdam kembali ramai oleh pengunjung yang datang untuk berfoto. Namun di kampung tuanya, warga justru bersiap menutup hari dengan sederhana. Anak-anak pulang dari bermain, ibu-ibu mulai menyiapkan makan malam, dan lampu-lampu kecil menyala di setiap jendela.

Kehidupan di kampung tua ini tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian. Ia hanya berjalan pelan, mengikuti irama yang sama seperti para pendahulunya, tetap setia berada di bawah bayang-bayang benteng yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

Foto: Sanko . – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:Fort Rotterdam, Makassar, Indonesia – 20100227-02.jpg