Satu Kampung. Satu Cerita. Satu Sulawesi Selatan.
Menjelajah Sulawesi Selatan Cerita Terbaru Dulu & Sekarang Kirim Cerita

Mappadendang, Syukur di Lumbung Pinrang

September 21, 2026 Wilayah: Kabupaten Pinrang

Foto: Regency Government of Pinrang, Indonesia – dari Wikimedia Commons (lisensi Public domain). Sumber: File:Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid.jpg

Dentang Lesung di Senja Kampung

Menjelang magrib di kampung-kampung Kabupaten Pinrang, suara dentang kayu lesung mulai bersahutan. Bunyi itu bukan sekadar kerja, melainkan panggilan berkumpul. Para perempuan dengan selendang terikat di pinggang, para lelaki membawa alu lebih panjang, semuanya menuju halaman rumah yang telah disapu bersih.

Mappadendang adalah tradisi menumbuk padi bersama. Padi yang baru dipanen ditumpuk di atas lesung kayu sepanjang dua depa. Empat hingga enam orang mengelilinginya, memukul lesung dengan irama yang selaras. Tidak ada komando, hanya telinga yang menyelaraskan. Jika satu alu meleset, semua tertawa, suasana tetap hangat.

Makna di Balik Setiap Tumbukan

Masyarakat Pinrang memaknai Mappadendang sebagai wujud syukur atas hasil panen. Semakin ramai yang ikut menumbuk, semakin besar rasa terima kasih yang dihaturkan kepada alam dan leluhur. Padi bukan sekadar beras, melainkan denyut kehidupan kampung.

Setiap tumbukan juga mengandung doa agar musim berikutnya lebih subur. Lesung yang ditumbuk bersama diyakini menggetarkan tanah, membangunkan semangat sawah. Karena itu, tradisi ini tidak pernah dilakukan dengan tergesa-gesa. Semua gerakan dilakukan dengan penuh penghayatan.

Gotong Royong yang Hidup

Nilai yang paling dijaga adalah kebersamaan. Dalam Mappadendang, tidak ada pembagian kerja yang kaku. Yang muda belajar dari yang tua, yang kuat mengayun alu lebih cepat, yang lemah tetap dilibatkan untuk menjaga ritme. Setelah menumbuk, beras hasil kerja bersama dibagi rata untuk keperluan acara atau dimasak bersama.

“Dulu nenek kami bilang, kalau lesung berbunyi, kampung tidak pernah sepi. Itu tanda kami masih saling membutuhkan,” ujar seorang warga desa di Kecamatan Paleteang.

Mappadendang juga menjadi penanda peristiwa penting. Ketika ada pernikahan atau kelahiran, tradisi ini digelar sebagai ucapan selamat. Ketika ada musibah, lesung ditabuh pelan sebagai penguat duka. Bunyinya berubah sesuai rasa, tetapi tujuannya sama: menjaga warga tetap dalam satu lingkaran.

Warisan yang Terus Dijaga

Di era mesin penggiling padi, Mappadendang tidak lagi dilakukan setiap hari. Namun, warga Pinrang tetap menjadwalkannya pada musim panen raya atau hari besar kampung. Mereka sadar, mesin menggiling lebih cepat, tetapi tidak bisa menggantikan hangatnya telapak tangan yang saling bersentuhan.

Tradisi ini diwariskan dari mulut ke mulut, dari tangan ke tangan. Anak-anak diajak ikut memegang alu meski hanya sebentar. Mereka belajar bahwa kerja keras dan rasa syukur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mappadendang bukan soal beras, melainkan tentang cara orang Pinrang menjaga hati dan kampungnya tetap utuh.