Panre Hemma
Panre Hemma, Penjaga Naskah Kuno Bugis di Cangadi
Panre Hemma adalah tokoh masyarakat Desa Cangadi, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, yang selama bertahun-tahun merawat koleksi naskah kuno Bugis. Koleksi itu diwariskan keluarganya secara turun-temurun selama tujuh generasi dan menjadi bagian dari jejak peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.
Sosok Penjaga Warisan Lontara
Naskah kuno Bugis dikenal luas sebagai Lontara, yakni manuskrip yang ditulis dalam aksara Lontara dan memuat catatan sejarah, silsilah, hukum adat, hingga pengetahuan lokal masyarakat Bugis. Peran Panre Hemma sebagai penjaga koleksi warisan keluarga selama tujuh generasi menjadikannya salah satu figur penting dalam pelestarian tradisi tulis di Soppeng.
Soppeng dan Tradisi Naskah Kuno
Kabupaten Soppeng memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan peradaban Bugis. Di wilayah ini, tradisi menulis dan menyimpan naskah kuno menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Keberadaan koleksi yang diwariskan lintas generasi membuktikan bahwa tradisi literasi Bugis telah hidup lama dan dirawat dengan tekun oleh keluarga seperti keluarga Panre Hemma.
Mengapa Perawatan Naskah Itu Penting
Naskah kuno bukan sekadar benda pusaka keluarga. Ia adalah sumber pengetahuan tentang nilai, adat, dan perjalanan sejarah masyarakat Bugis. Tanpa perawatan yang cermat, banyak informasi berharga berisiko rusak, termakan usia, atau hilang selamanya. Peran figur seperti Panre Hemma menjadi penjaga agar warisan intelektual leluhur tetap utuh dan bisa dipelajari generasi muda.
Kehidupan budaya di Soppeng juga tampak dari tradisi yang masih dirawat warganya, seperti Mappacci di Soppeng dan denyut kehidupan di sawah-sawahnya.
Penutup
Dengan merawat naskah kuno selama bertahun-tahun, Panre Hemma ikut menjaga kesinambungan budaya Bugis di Soppeng. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dimulai dari kesetiaan menjaga warisan kecil di rumah sendiri.