Satu Kampung. Satu Cerita. Satu Sulawesi Selatan.
Menjelajah Sulawesi Selatan Cerita Terbaru Dulu & Sekarang Kirim Cerita

Barongko, Manisnya Pisang dari Dapur Bone

September 21, 2026 Wilayah: Kabupaten Bone

Foto: Gunarta – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 4.0). Sumber: File:Barongko hendak dimakan.jpg

Dari Tangan-Tangan Terampil di Dapur Bugis

Barongko adalah kue tradisional khas Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Bentuknya sederhana, tapi ceritanya panjang. Kue ini lahir dari kebiasaan masyarakat Bugis yang pandai mengolah hasil kebun, terutama pisang, menjadi makanan yang tahan lama dan penuh makna.

Di dapur-dapur rumah warga, barongko biasanya dibuat oleh para ibu dan nenek. Mereka mewarisi resep ini turun-temurun. Tidak ada catatan pasti kapan pertama kali barongko dibuat, tetapi keberadaannya sudah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Bone.

Pisang yang Dihaluskan, Santan yang Mengikat

Bahan utamanya adalah pisang yang sudah matang benar. Pisang dikupas, lalu dihaluskan hingga lembut. Setelah itu, dicampur dengan santan kelapa kental, gula, dan sedikit garam. Adonan ini kemudian dibungkus rapi dengan daun pisang.

Proses membungkusnya butuh ketelitian. Daun pisang dilipat membentuk segi empat atau lonjong, lalu disemat dengan lidi. Setelah semua terbungkus, barongko dikukus hingga matang. Hasilnya adalah tekstur yang padat, lembut, dan sedikit kenyal. Aroma daun pisang ikut meresap, membuat rasanya semakin khas.

Cara Menikmati yang Sederhana

Barongko paling nikmat disantap saat masih hangat. Saat dibuka, daun pisangnya menguarkan aroma harum yang menggoda. Teksturnya yang lembut berpadu dengan rasa manis alami pisang dan gurihnya santan.

Tidak perlu tambahan apa pun. Satu potong barongko sudah cukup menemani secangkir teh atau kopi di sore hari. Di beberapa tempat, barongko juga dinikmati setelah makan besar sebagai penutup yang ringan.

Hadir di Setiap Hajatan dan Pasar Tradisional

Di Bone, barongko bukan sekadar camilan. Kue ini hampir selalu hadir dalam acara-acara penting, seperti pernikahan, syukuran, atau acara adat. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga.

Selain di rumah-rumah, barongko juga mudah ditemui di pasar-pasar tradisional di Bone. Para penjual biasanya membawanya dalam jumlah banyak, ditata rapi dalam wadah. Harganya pun terjangkau, sehingga siapa saja bisa menikmatinya.

“Barongko itu makanan orang tua dulu, tapi sampai sekarang masih dicari. Rasanya tidak berubah, manisnya pas,” ujar seorang penjual kue di Pasar Sentral Watampone.

Barongko adalah bukti bahwa kesederhanaan bisa menghasilkan sesuatu yang istimewa. Di balik bungkus daun pisangnya, tersimpan rasa yang membawa ingatan pada kampung halaman dan kehangatan dapur keluarga.