Pelabuhan yang Menjadi Jantung Kota
Ritme Pagi di Pesisir
Kota Parepare terbangun bukan dari deru kendaraan, melainkan dari lengkingan kapal yang merapat di dermaga. Sejak matahari belum meninggi, aktivitas pelabuhan sudah ramai. Para pekerja dermaga dengan pakaian lusuh dan topi anyaman mulai berdatangan, menyiapkan diri untuk mengangkat barang-barang yang akan dibongkar muat.
Suasana di sekitar pelabuhan begitu hidup. Tumpukan karung berisi hasil bumi, peti-peti berisi barang dagangan, dan jaring-jaring nelayan berserakan di tepi dermaga. Bau amis ikan bercampur dengan aroma kopi dari warung-warung kecil yang berjejer di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Semua itu menyatu dalam harmoni yang khas.
Kehidupan Sehari-hari
Bagi warga Parepare, pelabuhan bukan sekadar tempat bersandarnya kapal. Ia adalah ruang hidup yang menghidupi banyak keluarga. Pekerja dermaga yang biasa disebut buruh bongkar muat menjadi profesi yang turun-temurun. Mereka bekerja dengan cara yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi, menggunakan tenaga dan keahlian membaca gerak ombak serta arus kapal.
Di sela-sela pekerjaan, para pekerja itu kerap duduk di tepi dermaga, menikmati rokok daun dan kopi hitam. Mereka bercerita tentang pelayaran, tentang harga barang yang naik turun, dan tentang kabar dari kampung-kampung lain yang dibawa oleh awak kapal. Percakapan mereka menggunakan bahasa campuran, antara bahasa Bugis yang kental dengan logat pesisir yang egaliter.
Nilai yang Tersimpan
Dari pelabuhan ini, tersimpan nilai tentang kerja keras dan kesetiaan. Para pekerja dermaga tidak pernah menawar upah, mereka hanya berharap agar cuaca bersahabat dan kapal selalu datang. Ada kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil memindahkan barang-barang besar dengan gotong royong, saling berteriak memberi aba-aba, dan tertawa bersama ketika pekerjaan selesai.
"Pelabuhan ini bukan hanya tempat kami bekerja, tetapi juga tempat kami belajar tentang kehidupan," begitu kira-kira yang sering terdengar dari mulut para tetua di kampung sekitar pelabuhan.
Kesederhanaan hidup terlihat jelas di sini. Tidak ada kemewahan, hanya kejujuran dalam bekerja dan kebersamaan yang kuat. Anak-anak kecil yang bermain di sekitar dermaga sejak dini sudah belajar tentang kerasnya hidup, tetapi juga tentang arti saling membantu.
Penutup
Matahari mulai condong ke barat, menerangi dermaga dengan cahaya keemasan. Kapal-kapal mulai bersiap berlayar kembali, membawa cerita dan doa dari Parepare ke berbagai penjuru. Pelabuhan yang menjadi saksi bisu perjalanan kota ini tetap berdiri kokoh, menjaga denyut kehidupan yang terus berdetak. Bagi warga Parepare, pelabuhan bukan sekadar infrastruktur, melainkan identitas yang tidak akan lekang oleh waktu.
Foto: Blue tooth7 – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:Terminal Penumpang Pelabuhan Nusantara Parepare (Pelindo IV).JPG


