Masamba, Tenang di Antara Perbukitan
Pagi yang Dingin dan Sapa yang Hangat
Kabut tipis masih menggantung di pucuk-pucuk perbukitan ketika warga mulai membuka pintu rumahnya. Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, bukanlah kota yang ramai. Justru sebaliknya, ia adalah kampung besar yang tenang, dikelilingi bukit-bukit hijau yang menjaga dari hiruk-pikuk.
Udara pagi terasa dingin menusuk, khas dataran tinggi. Di beberapa rumah, asap mengepul dari dapur tempat air untuk teh atau kopi sedang dipanaskan. Anak-anak berseragam sekolah berjalan berkelompok, sesekali berhenti untuk menunggu teman yang masih mengikat sepatu di teras rumahnya.
Kehidupan Sehari-hari
Kegiatan warga mengikuti ritme alam. Pagi diisi dengan menyapu halaman, memberi makan ayam, atau sekadar duduk di beranda sambil menikmati matahari yang mulai menghangatkan udara. Suara kendaraan bermotor jarang terdengar; lebih sering yang terdengar adalah suara sapu lidi dan obrolan ringan antar tetangga.
Pasar tradisional mulai ramai menjelang siang. Ibu-ibu memilih sayuran yang baru dipetik dari kebun, sementara para bapak mengobrol sambil menunggu pesanan mereka diolah. Transaksi berjalan tanpa terburu-buru. Tawar-menawar dilakukan dengan senyum, bukan dengan nada tinggi.
Alam dan Pekerjaan
Perbukitan di sekitar Masamba bukan sekadar pemandangan. Ia adalah sumber penghidupan. Banyak warga bekerja sebagai petani, menggarap ladang yang terhampar di lereng-lereng bukit. Mereka berangkat pagi-pagi sekali dengan berjalan kaki atau mengendarai motor tua, membawa bekal dan alat-alat pertanian sederhana.
Hasil kebun dibawa turun ke kampung untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan lain. Pekerjaan lain yang umum adalah membuka warung kecil di depan rumah, menjadi tukang ojek, atau bekerja di instansi pemerintah. Meski sederhana, pekerjaan-pekerjaan ini dijalani dengan tekun. Tidak ada keluhan yang terdengar, hanya keikhlasan yang terlihat dari wajah-wajah yang tenang.
Nilai yang Tersimpan
Ada satu hal yang paling terasa di Masamba: kebersamaan. Ketika ada warga yang membangun rumah, tetangga datang membantu tanpa diminta. Ketika ada hajatan, seluruh kampung turut meramaikan. Gotong royong bukan sekadar istilah, melainkan praktik sehari-hari yang diwariskan turun-temurun.
Anak-anak di kampung ini tumbuh dengan mengenal tetangganya seperti keluarga sendiri. Mereka bebas bermain di halaman yang luas, mandi di sungai kecil yang airnya jernih, dan pulang ke rumah masing-masing saat azan magrib berkumandang. Kehidupan sosial di sini berjalan hangat, penuh rasa hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda.
Masamba mungkin tidak menawarkan gemerlap perkotaan. Namun, ketenangan yang dimilikinya adalah kekayaan yang tidak ternilai. Di balik perbukitan yang mengelilinginya, tersimpan cara hidup yang sederhana, dekat dengan alam, dan kaya akan hubungan antar sesama. Kampung ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari kedamaian yang dijaga bersama setiap hari.
Foto: Unknown author Unknown author – dari Wikimedia Commons (lisensi CC BY-SA 3.0). Sumber: File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Oerbos van hardhout met rotan ondergroei op de weg Palopo-Masamba Celebes TMnr 10012977.jpg

