Satu Kampung. Satu Cerita. Satu Sulawesi Selatan.
Menjelajah Sulawesi Selatan Cerita Terbaru Dulu & Sekarang Kirim Cerita

Karst dan Laut yang Menyatu

September 21, 2026 Wilayah: Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Bukit Putih dan Laut yang Membentang

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, atau yang akrab disebut Pangkep, menyimpan wajah yang berbeda dari daerah lain di Sulawesi Selatan. Di daratan, bukit-bukit karst berdiri tegak, putih keabu-abuan, seakan menjadi penjaga sunyi yang sudah ada sejak zaman purba. Sementara di sisi lain, gugusan pulau tersebar di Selat Makassar, membentuk garis horizon yang tenang.

Perpaduan dua bentang alam ini membentuk kehidupan yang khas. Kampung-kampung di pesisir tidak pernah jauh dari dua hal: batu dan air. Keduanya hadir dalam keseharian, menjadi latar dari segala aktivitas warga.

Kehidupan Sehari-hari

Di kampung pesisir, hari dimulai saat matahari masih rendah. Nelayan meluncurkan perahu, sementara sebagian warga lain berjalan ke kebun di lereng bukit. Tanah di sekitar karst memang tidak subur, tetapi cukup untuk ditanami palawija dan sayur-mayur sederhana. Hasilnya tidak melimpah, tetapi cukup untuk kebutuhan dapur.

Anak-anak bermain di antara karang dan pasir. Mereka akrab dengan deburan ombak dan tekstur batu kapur yang kasar. Rumah-rumah panggung berdiri sederhana, menghadap ke laut, dengan jemuran ikan yang mengering di teras. Suasana tenang, tidak ramai, tetapi penuh denyut kehidupan yang pelan.

Alam dan Pekerjaan

Laut adalah sumber utama penghidupan. Ikan, kepiting, dan rumput laut menjadi komoditas yang dijual ke pasar atau dibawa ke kota. Beberapa warga juga mengolah hasil laut menjadi ikan asin atau terasi. Pekerjaan ini turun-temurun, diwariskan dari orang tua kepada anaknya.

Di sisi lain, bukit karst bukan sekadar pemandangan. Sebagian warga memanfaatkan batu kapur untuk bahan bangunan, meski kini semakin dibatasi. Tebing-tebing karst yang menjulang juga menyimpan gua-gua kecil yang dulu menjadi tempat berlindung atau persinggahan. Jejak masa lalu itu masih bisa dirasakan ketika menyusuri jalan setapak di antara bukit.

Nilai yang Tersimpan

Kampung-kampung di Pangkep menyimpan cerita tentang ketahanan. Hidup di antara batu dan laut tidak mudah, tetapi warga terbiasa dengan keterbatasan. Mereka hidup dari apa yang ada, tidak banyak menuntut, dan saling membantu ketika musim paceklik atau ombak besar datang.

Perubahan zaman memang membawa pengaruh. Jalan semakin baik, perahu bermesin menggantikan dayung, dan anak-anak muda mulai merantau ke kota. Namun, kampung-kampung ini tetap mempertahankan ritme lama. Karst tetap tegak, laut tetap memberi, dan warga tetap menjalani hidup dengan cara yang sederhana.

Pangkep bukan daerah yang ramai atau heboh. Ia lebih seperti orang tua yang pendiam—menyimpan banyak hal, tetapi tidak banyak bicara. Bagi yang mau singgah, kampung-kampung di sini menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Foto: Charles Thomas Burt – dari Wikimedia Commons (lisensi Public domain). Sumber: File:Charles Thomas Burt (1823-1902) – Sea Coast – 1901P31.4 – Birmingham Museums Trust.jpg